hadist hawa nafsu shahih & Dha'if

Hadist tentang “Jihad yang akbar adalah melawan hawa nafsu”

رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ

(Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar).


Tentang hadits di atas, Mulla ‘Ali Al-Qari menyebutkannya di dalam Al-Asrâr Al-Marfû’ah, hlm. 127, dan beliau mengatakan: “Al-‘Asqalani mengatakan di dalam Tasdîdun-Nufûs,’Perkataan ini masyhur di kalangan manusia, dan ini merupakan perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah di dalam kitab Al-Kuna karya An-Nasâ-i’.”

Kemudian Mulla Al-Qari berkata,”Hadits ini disebutkan di dalam kitab Ihya` ‘Ulumuddin. Al-‘Iraqi menyatakan, bahwa hadits ini riwayat Al-Baihaqi (di dalam kitab Az-Zuhd) dari Jabir, dan Al-“Iraqi berkata,’Sanad ini ada kelemahan’.”

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albâni t menyebutkan hadits ini di dalam kitab Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah (5/478, no. 2460), dan beliau mengatakan: “Mungkar”. Kemudian Syaikh Al-Albani menjelaskan secara panjang lebar sisi kelemahan hadits ini. Beliau juga menukil perkataan Al-Hafizh Ibnu Hajar  di dalam takhrij kitab Al-Kasysyaf, bahwa An-Nasa-i di dalam kitab Al-Kuna meriwayatkannya sebagai perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah, seorang tabi’i dari penduduk Syam.

Syaikh Al-Albani mengakhiri penjelasannya dengan menukil perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah tentang hadits ini: “Tidak ada asalnya. Tidak ada seorang pun dari manusia yang mengetahui perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatan Nabi SAW, yang meriwayatkannya. Dan jihad melawan orang-orang kafir termasuk sebesar-besar amalan, bahkan hal itu merupakan amalan tathawwu’ terbesar yang dilakukan manusia”[1]

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya)


Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush-Shaghîr, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shâhihah, no. 1496. 


Syaikh ‘Abdur-Razaq bin Abdul-Muhsin Al-Badr –hafizhahullah– berkata,”Jika kaum Muslimin melalaikan jihad melawan diri sendiri, mereka tidak akan mampu jihad melawan musuh-musuh mereka, sehingga dengan sebab itu terjadi kemenangan musuh terhadap mereka”.[2]

 

kemudian dia menukil perkataan Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang mengatakan: “Bilamana orang-orang kafir menang (atas umat Islam, Red.), maka tidak lain, sesungguhnya hal itu dikarenakan dosa-dosa kaum Muslimin yang menyebabkan iman mereka berkurang. Kemudian, jika kaum Muslimin bertaubat dengan menyempurnakan iman mereka, maka Allah pasti akan menolong mereka”[3]



[1] Majmu’ Fatâwâ (11/197). Lihat pembahasan ini dalam Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dhâ’îfah (5/478-481), karya Syaikh Al-Albâni. Lihat juga kitab Laisa min Qa-ulin-Nabi, Dr. Muhammad Fu-ad Syakir, Maktabah Auladisy-Syaikh lit-Turats, Cetakan I, tanpa tahun, hlm. 108.

 

[2] Khuthab wa Mawa’izh min Hajjatil-Wada`, Syaikh Abdur-Razaq bin Abdul-Muhsin Al-Badr, hlm. 53.

[3] Al-Jawabush-Shahih liman Baddala Dînal-Mashih (6/450).


sumbber refrensi : Melawan Hawa Nafsu Jihad Terbesar? | Almanhaj

Komentar

Postingan populer dari blog ini

tafsir al- Baqarah : 190

Imam As-Suyuti