Postingan

hadist hawa nafsu shahih & Dha'if

Hadist tentang  “Jihad yang akbar adalah melawan hawa nafsu” رَجَعْنَا مِنَ الْجِهَادِ الْأَصْغَرِ إِلَى الْجِهَادِ الْأَكْبَرِ (Kita kembali dari jihad kecil menuju jihad yang besar). Tentang hadits di atas, Mulla ‘Ali Al-Qari menyebutkannya di dalam Al-Asrâr Al-Marfû’ah, hlm. 127 , dan beliau mengatakan: “Al-‘Asqalani mengatakan di dalam Tasdîdun-Nufûs,’Perkataan ini masyhur di kalangan manusia, dan ini merupakan perkataan Ibrahim bin Abi ‘Abalah di dalam kitab Al-Kuna karya An-Nasâ-i’.” Kemudian Mulla Al-Qari berkata,”Hadits ini disebutkan di dalam kitab Ihya` ‘Ulumuddin. Al-‘Iraqi menyatakan, bahwa hadits ini riwayat Al-Baihaqi (di dalam kitab Az-Zuhd) dari Jabir, dan Al-“Iraqi berkata, ’Sanad ini ada kelemahan’ .” Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albâni t menyebutkan hadits ini di dalam kitab Silsilah Al-Ahâdits Adh-Dha’îfah (5/478, no. 2460), dan beliau mengatakan: “Mungkar”. Kemudian Syaikh Al-Albani menjelaskan secara panjang lebar sisi kelemahan hadits ini. Beliau juga menuk...

tafsir al- Baqarah : 190

Gambar
Dalam jihad terdapat surat di dalam al- Quran yang menerangkan tentang jhad. Hal ini tercatat dalam surat al-Baqoroh: 190    وَقَاتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ الَّذِيْنَ يُقَاتِلُوْنَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ Wa qātilū fī sabīlillāhilladzīna yuqātilūnakum wa lā ta‘tadū,innallāha lā yuḫibbul-mu‘tadīn.   Artinya: “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu dan jangan melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”   Sebelum sampai pada kesimpulan dari surat tersebut alangkah indahnya kita melihat Sababun Nuzul dari surat ini. Sababun Nuzul surat ini tercatat dalam para penafsir   ·          Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith   “Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini turun sehubungan kaum musyrikin menghalangi Rasulullah saw (pergi ke Baitullah untuk melaksanakan umrah) pada tahun dilaksanakannya perjanjian Hudaibiyah. Kaum mus...

SYEKH NAWAWI BANTEN DALM

Gambar
(Tasir Sababun Nuzul Surat Al-Baqarah : 190) Senada dengan yang diungkapkan oleh Imam As-Suyyuthi, Syekh Nawawi Banten dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat Al-Baqarah ayat 190 merupakan perintah untuk memerangi orang-orang kafir yang mengawali peperangan. Dimana, bukan umat Islam yang memulai peperangan. Namun, Syekh Nawawi memberi catatan bahwa maksud dari larangan melewati pada batas pada ayat tersebut ialah tidak dibolehkan memulai peperangan di tanah Haram. [1] [1] (Nawawi Al-Bantani, Marah Labid, juz I, halaman 45)

Imam As-Suyuti

Gambar
  (Tasir Sababun Nuzul Surat Al-Baqarah : 190) Ia menjelaskan, bahwa, maksud ayat tersebut secara ringkas ialah perintah untuk berjihad memerangi orang-orang kafir yang memerangi orang Islam (kafir harbi). Hal demikian dilakukan bukan untuk ajang balas dendam, melainkan untuk menegakkan agama Allah. Itupun dengan catatan umat Islam tidak melewati batas dengan memulai peperangan terlebih dahulu. Karena memulai peperangan tidak diperkenankan oleh Allah kecuali dengan mereka yang memulainya terlebih dahulu. [1] [1] As-Suyuthi, Tafsirul Jalalain pada Hasyyatus Shawi  [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2013 M], juz 1, halaman 117

Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith

Gambar
(Tasir Sababun Nuzul Surat Al-Baqarah : 190) “Ibnu Abbas berkata: “Ayat ini turun sehubungan kaum musyrikin menghalangi Rasulullah saw (pergi ke Baitullah untuk melaksanakan umrah) pada tahun dilaksanakannya perjanjian Hudaibiyah. Kaum musyrikin mengajak damai Nabi saw untuk kembali pada tahun depannya saja, sehingga kemudian mereka akan memperbolehkan Nabi saw mengunjungi Baitullah selama 3 hari.    Kemudian Nabi saw kembali (pada tahun depannya) untuk melaksanakan umrah qadha, namun umat Islam khawatir orang-orang Quraisy tidak menepati janji mereka dan menghalang-halangi kembali, serta memerangi mereka di tanah Haram dan di bulan yang haram pula. Umat Islam tidak menyukainya, kemudian turunlah ayat ini. [1] [1] Abu Hayyan, Al-Bahrul Muhith, [Beirut, Darul Fikr: 1432 H/2010 M], juz 2, halaman 240

Roh yang bebas

Gambar
  Mari kita ambil warisan yang ditinggalkan oleh nenek moyang kita, dan sebagai pekerja yang aktif, lakukanlah sebanyak yang kita bisa! Dunia terletak di bawah kaki kita, jauh di bawah kita dan surga kita, di mana lengannya yang kuat tidak lagi menjangkau dan aromanya yang memabukkan tidak akan menembus. Tidak peduli seberapa menggoda dia bertindak, dia tidak bisa menipu apapun kecuali indra kita; dia tidak dapat menyesatkan roh kita–dan bagaimanapun juga, kita sebenarnya hanyalah roh. Ketika roh berada di balik segala sesuatu, roh juga menguasai mereka, dan menjadi bebas dari ikatan mereka, terbebaskan, dengan kebebasan dunia lain.  Ini adalah bagaimana “kebebasan rohaniah” berbicara. (max stirner:1844, hlm 57)

Carneades (skeptis kuno)

Gambar
Carnedes (159 SM) pemimpin skeptis Skepstis yaitu meragukan segala hal dan mempertanyakan segala hal dengan disertai bukti yang jelas. Skeptis yang saya maksud yaitu dari gagasan para filsuf clasic utamanya gagasan Carnedes. Namun sayangnya catatan-catatan pemikiran skeptisisme awal banyak yang hilang; entah lenyap dimakan zaman atau sengaja dilenyapkan (mungkin). Dia adalah filsuf juga pemimpin kaum Skeptisisme, yang dimana ia lahir sebagai penentang serta mempertanyakan ‘kejelasan’ sebuah pemikiran; termasuk hasil dari pemikiran kaum Stoikisme. Rata-rata orang Yunani pada abad ke-2 SM adalah para pecinta kesenangan hidup, lincah dan cerdik, pintar dalam urusan bisnis namun juga licik dalam segala hal. Namun masih ada juga ada orang yang memiliki kepandaian dalam filsafat.  Dalam hal ini, Carnades memperbolehkan kelicikan untuk merongrong para sikap serius. (berthan Russle, hlm 376).